Lompat ke konten
Beranda » Blog » Jenis Jenis Kerusakan Jalan Berdasarkan Standar Bina Marga

Jenis Jenis Kerusakan Jalan Berdasarkan Standar Bina Marga

Memahami jenis jenis kerusakan jalan berdasarkan Standar Bina Marga adalah langkah penting untuk memastikan kualitas konstruksi tetap terjaga dan umur layanan jalan lebih panjang. Setiap bentuk kerusakan, mulai dari retak rambut, lubang, hingga deformasi, memiliki penyebab, tingkat keparahan, serta metode perbaikan yang berbeda. Dengan mengenalinya sejak awal, Anda dapat mencegah kerusakan yang lebih parah, menghemat biaya pemeliharaan, dan meningkatkan kenyamanan serta keselamatan pengguna jalan. Artikel ini akan memandu Anda memahami semua jenis kerusakan jalan secara jelas, sistematis, dan aplikatif.

jenis jenis kerusakan jalan

Pentingnya Kondisi Jalan bagi Mobilitas dan Ekonomi

Kondisi jalan yang baik bukan hanya soal kenyamanan saat berkendara, lebih dari itu, ia menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi di suatu wilayah. Jalan yang mulus dan terawat memungkinkan distribusi barang berlangsung tanpa hambatan, mengurangi waktu tempuh, serta menekan biaya transportasi bagi pelaku usaha. Hal ini berdampak langsung pada kelancaran rantai pasok, efisiensi logistik, hingga daya saing produk lokal.

Bagi masyarakat, kondisi jalan yang prima memberikan kenyamanan berkendara, mengurangi risiko kecelakaan, serta menurunkan biaya perawatan kendaraan akibat kerusakan suspensi atau ban. Jalan yang rusak, sebaliknya, dapat memperlambat aktivitas harian, mengganggu mobilitas pekerja, bahkan menghambat pertumbuhan wilayah yang sedang berkembang.

Secara makro, kualitas jalan adalah indikator penting dalam pembangunan infrastruktur suatu daerah. Akses yang baik membuka peluang bagi investasi, memperluas konektivitas antarwilayah, dan meningkatkan produktivitas masyarakat. Itulah sebabnya pemeliharaan jalan perlu menjadi perhatian secara rutin serta mengikuti standar teknis seperti yang telah ditetapkan oleh Bina Marga. Dengan memahami jenis kerusakan sejak dini, pemerintah dan kontraktor dapat mengambil keputusan perbaikan yang lebih tepat, efisien, dan berkelanjutan.

Dampak Kerusakan Jalan Jika Tidak Segera Mendapat Penanganan

Kerusakan jalan, sekecil apa pun bentuknya, tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kerusakan jalan tersebut dapat berkembang lebih cepat dan menimbulkan dampak serius bagi pengguna jalan maupun pemerintah sebagai pengelola infrastruktur.

  1. Mengancam Keselamatan Pengendara
    Lubang jalan, retakan memanjang, hingga permukaan yang bergelombang dapat menjadi penyebab kecelakaan, terutama bagi pengendara motor. Kendaraan bisa kehilangan keseimbangan, tergelincir saat hujan, atau tiba-tiba menghindari lubang dan berpotensi bertabrakan dengan pengguna jalan lain. Pada kondisi lalu lintas padat, risiko kecelakaan meningkat berlipat karena jarak antar kendaraan yang sangat dekat.
  2. Meningkatkan Biaya Perawatan Kendaraan
    Kerusakan jalan juga berdampak langsung pada kondisi kendaraan. Suspensi menjadi cepat aus, roda tidak presisi, serta ban rentan pecah akibat benturan dengan lubang atau permukaan yang kasar. Pengendara akhirnya harus mengeluarkan biaya lebih untuk perawatan seperti spooring, balancing, hingga penggantian ban dan shockbreaker. Jika kerusakan jalan semakin parah, kerugian pengguna jalan pun semakin besar dan berulang.
  3. Mengurangi Kenyamanan dan Efisiensi Mobilitas
    Perjalanan yang seharusnya terasa mulus bisa berubah menjadi tidak nyaman ketika melewati jalan yang rusak. Pengendara harus terus memperlambat laju kendaraan, menghindari lubang, atau mencari jalur alternatif yang lebih jauh. Akibatnya, waktu tempuh bertambah, produktivitas menurun, dan kenyamanan berkendara berkurang drastis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat mobilitas harian masyarakat dan aktivitas ekonomi lokal.

Dengan memahami dampak-dampak ini, sangat jelas bahwa kerusakan jalan harus segera diidentifikasi dan ditangani sesuai standar teknis. Upaya perawatan yang tepat akan menjaga keselamatan, menekan biaya jangka panjang, serta memastikan kenyamanan pengguna jalan tetap terjaga.

jenis jenis kerusakan jalan

Dasar Standar Evaluasi Kerusakan Jalan Menurut Bina Marga

Untuk memastikan kualitas dan umur layanan jalan tetap terjaga, Bina Marga menyediakan standar teknis yang menjadi acuan dalam menilai kondisi pengaspalan. Standar ini digunakan oleh kontraktor, konsultan, hingga instansi pemerintah untuk melakukan evaluasi kerusakan jalan secara objektif dan terukur.

  1. Menggunakan Sistem Penilaian yang Terstandarisasi
    Bina Marga menetapkan pedoman pemeriksaan visual dan pengukuran teknis yang mencakup jenis kerusakan, tingkat keparahan, serta luas kerusakan. Dengan pendekatan ini, kondisi jalan dapat dianalisis secara konsisten di seluruh wilayah Indonesia, sehingga memudahkan proses pengambilan keputusan untuk perbaikan.
  2. Parameter Penilaian Jenis Kerusakan Jalan
    Beberapa aspek penting yang dinilai meliputi:
    • Jenis kerusakan
      Seperti retak, lubang, alur (rutting), amblas, atau bleeding.
    • Tingkat keparahan
      Dibagi menjadi rendah (low), sedang (medium), dan tinggi (high), berdasarkan kedalaman, lebar retak, atau tingkat deformasi.
    • Luas area kerusakan
      Mengukur persentase area yang terdampak dibanding total luas jalan.
    • Pengaruh terhadap keselamatan dan kenyamanan
      Semakin besar dampaknya, semakin tinggi prioritas perbaikannya.
  3. Pedoman Teknis yang Digunakan Untuk Perbaikan Kerusakan Jalan
    Evaluasi mengacu pada dokumen resmi seperti:
    • Spesifikasi Umum Bina Marga
    • Tata Cara Evaluasi Kerusakan Pengaspalan Jalan (LHR, PCI, dan visual rating)
    • Standar Pemeriksaan Lapangan Pengaspalan
      Dokumen-dokumen ini memastikan seluruh proses pemeriksaan mengikuti metode teknis yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Pentingnya Evaluasi Rutin
    Penilaian kondisi jalan tidak hanya dilakukan saat kerusakan sudah parah. Pemeriksaan berkala membantu:
    • mendeteksi kerusakan lebih awal,
    • mencegah kerusakan bertambah luas,
    • mengurangi biaya rehabilitasi jangka panjang,
    • menjaga keselamatan pengguna jalan.
      Evaluasi yang dilakukan sesuai standar Bina Marga menjadi langkah fundamental sebelum menentukan metode penanganan, seperti patching, overlay, atau rekonstruksi total. Dengan dasar penilaian yang tepat, perbaikan dapat dilakukan secara efisien dan hasilnya lebih tahan lama.

Penyebab Utama Kerusakan Jalan

Kerusakan jalan tidak terjadi begitu saja, selalu ada faktor pemicu yang membuat pengaspalan kehilangan kekuatan, stabilitas, hingga fleksibilitasnya. Dengan memahami penyebab utamanya, perencanaan dan pemeliharaan jalan dapat dilakukan lebih tepat sasaran sehingga umur layanannya jauh lebih panjang. Berikut faktor-faktor utama yang paling sering menjadi penyebab kerusakan jalan menurut praktik lapangan dan standar teknis Bina Marga:

1. Beban Lalu Lintas Berlebih

Salah satu penyebab paling dominan adalah beban kendaraan yang melebihi kapasitas desain jalan. Truk kelebihan muatan (overload) memberi tekanan besar pada lapisan pengaspalan sehingga struktur jalan cepat mengalami deformasi, retak, bahkan amblas. Jalan yang dirancang untuk beban ringan hingga sedang akan sangat mudah rusak jika dilalui kendaraan berat secara terus-menerus.

2. Kualitas Drainase yang Buruk

Air adalah musuh utama pengaspalan jalan. Ketika sistem drainase tidak berfungsi baik, air akan meresap ke dalam struktur jalan dan melemahkan lapisan fondasi. Akibatnya jalan menjadi cepat retak, terbentuk lubang (potholes), dan terjadi pengelupasan permukaan. Kondisi ini lebih parah saat musim hujan ketika genangan air tidak tertangani.

3. Material Aspal atau Struktur Lapisan Tidak Sesuai Standar

Penggunaan material di luar spesifikasi Bina Marga, misalnya agregat tidak memenuhi gradasi, kadar aspal tidak tepat, atau kualitas base course yang kurang baik, akan membuat jalan rentan mengalami kerusakan dini. Kekurangan ini biasanya terlihat pada proyek yang tidak diawasi dengan benar atau dikerjakan tanpa kontrol mutu yang ketat.

4. Kesalahan dalam Pengerjaan (Poor Construction Practice)

Teknik pengerjaan yang tidak memenuhi standar juga menjadi penyebab umum, seperti:

  • pemadatan kurang optimal,
  • suhu aspal terlalu rendah saat penghamparan,
  • tebal lapisan tidak sesuai spesifikasi,
  • joint antar hamparan tidak rapi,
  • waktu penghamparan terlalu lama sehingga aspal mulai dingin.

Kesalahan kecil pada proses konstruksi ini bisa memicu kerusakan besar dalam waktu singkat.

5. Perubahan Cuaca dan Faktor Lingkungan

Suhu yang ekstrem, sering terjadi penyusutan dan pemuaian pada lapisan aspal. Air hujan, sinar UV, serta perubahan kelembapan juga menyebabkan oksidasi yang membuat aspal menjadi getas. Pengaspalan yang terlalu kering dan keras akan mudah retak, terutama pada daerah dengan cuaca panas dan intensitas hujan tinggi.

6. Umur Pengaspalan yang Sudah Melebihi Batas

Setiap jalan memiliki umur desain tertentu. Jika sudah melewati masa tersebut tanpa dilakukan overlay atau perawatan berkala, struktur pengaspalan kehilangan kekuatan sehingga kerusakan mulai muncul secara alami. Tanpa perbaikan, kerusakan akan berkembang semakin luas.

7. Aktivitas Utilitas di Bawah Jalan

Penggalian untuk pemasangan pipa, kabel, atau saluran bawah tanah sering menyebabkan penurunan tanah (settlement) karena pemadatan tidak bisa kembali seperti semula. Hal ini memicu amblasnya sebagian badan jalan.

Dengan mengetahui penyebab-penyebab utama kerusakan jalan ini, langkah perawatan dan perbaikan dapat anda rencanakan secara lebih akurat, efisien, dan berkelanjutan—sehingga jalan tetap nyaman, aman, dan berfungsi optimal dalam jangka panjang.

jenis jenis kerusakan jalan

Klasifikasi Jenis Jenis Kerusakan Jalan Menurut Bina Marga

Bina Marga menetapkan klasifikasi yang jelas dan terstandarisasi untuk mengidentifikasi kondisi pengaspalan jalan. Klasifikasi ini berfungsi sebagai acuan teknis dalam menentukan tingkat keparahan kerusakan, kebutuhan perbaikan, serta metode penanganan yang paling tepat. Secara umum, kerusakan jalan perbedaanya berdasarkan karakteristik visual, bentuk deformasi, dan penyebabnya. Berikut adalah klasifikasi lengkapnya:

1. Retak (Cracking)

Retak adalah salah satu jenis kerusakan permukaan jalan yang paling sering kami temukan. Bentuknya bervariasi, bergantung pada penyebab dan pola kerusakannya.

Jenis retak menurut Bina Marga meliputi:

  • Retak memanjang (Longitudinal Cracks) – sejajar dengan arah jalan, biasanya akibat kegagalan struktural atau joint yang tidak rapi.
  • Retak melintang (Transverse Cracks) – tegak lurus arah jalan, terpicu perubahan suhu atau penyusutan aspal.
  • Retak kulit buaya (Alligator Cracks) – membentuk pola seperti sisik, indikasi kerusakan struktural berat.
  • Retak tepi (Edge Cracks) – muncul di tepi pengaspalan karena erosi atau kurangnya penyangga bahu jalan.

2. Lubang Jalan (Potholes)

Lubang terjadi saat bagian permukaan jalan terkelupas dan membentuk cekungan. Penyebab utamanya adalah retakan yang sengaja mengalami pembiaran, masuknya air, dan beban kendaraan berat. Kerusakan ini mereka anggap serius karena sangat membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara motor.

3. Amblas atau Penurunan (Depression / Settlement)

Amblas terjadi ketika sebagian permukaan jalan turun lebih rendah dari area sekitarnya. Umumnya penyebabnya adalah:

  • pemadatan tanah dasar yang tidak optimal,
  • aktivitas utilitas di bawah jalan,
  • kelongsoran material pondasi.

Penurunan yang tidak segera proses perbaikan dapat memperparah retakan dan menimbulkan genangan air.

4. Alur (Rutting)

Rutting adalah alur memanjang pada jalur roda kendaraan, biasanya terjadi pada jalan dengan lalu lintas berat. Kerusakan ini timbul karena deformasi plastis pada lapisan aspal atau pondasi yang melemah. Rutting menyebabkan ketidaknyamanan dan meningkatkan risiko aquaplaning saat hujan.

5. Permukaan Bergelombang (Corrugation / Washboarding)

Merupakan pola gelombang kecil yang teratur pada permukaan jalan. Penyebabnya termasuk:

  • pemadatan tidak merata,
  • campuran aspal terlalu kaku,
  • gaya traksi kendaraan pada area tanjakan atau tikungan.

6. Pengelupasan (Ravelling)

Ravelling terjadi ketika agregat pada permukaan jalan mulai terlepas. Jika dibiarkan, kerusakan akan berkembang menjadi lubang. Penyebab umum:

  • kadar aspal terlalu rendah,
  • oksidasi aspal,
  • pemadatan kurang sempurna.

7. Bleeding (Mengkilap / Kelebihan Aspal)

Bleeding adalah kondisi ketika aspal naik ke permukaan dan membuat jalan tampak mengkilap dan licin. Kerusakan ini sangat berbahaya saat hujan karena mengurangi traksi ban. Penyebabnya adalah kadar aspal berlebih atau suhu penghamparan terlalu tinggi.

8. Pelepasan Butir (Stripping)

Stripping terjadi ketika aspal kehilangan daya lekat terhadap agregat, menyebabkan lepasnya butiran di permukaan jalan. Biasanya penyebabnya adalah:

  • kualitas agregat buruk,
  • adanya air di dalam campuran,
  • drainase bawah permukaan yang tidak optimal.

9. Kerusakan Pinggir Pengaspalan (Edge Break)

Kerusakan yang terjadi pada tepi jalan akibat beban kendaraan yang melewati area tanpa penyangga memadai. Sering kami temukan pada jalan sempit atau bahu jalan yang tidak stabil.

10. Keriting / Gelombang Besar (Shoving)

Merupakan perpindahan massa aspal secara horizontal, biasanya terjadi pada area yang menerima tekanan besar seperti persimpangan dan tikungan. Kerusakan ini membuat permukaan jalan tidak rata dan mengganggu stabilitas kendaraan.

Klasifikasi kerusakan ini menjadi dasar utama bagi kontraktor dan tim evaluasi lapangan untuk menentukan tindakan perbaikan. Dengan memahami jenis-jenisnya, kita dapat memutuskan apakah jalan hanya memerlukan patching ringan, overlay, atau bahkan rekonstruksi total.

jenis jenis kerusakan jalan

Metode Perbaikan Jalan Berdasarkan Jenis Kerusakannya

Langkah perbaikan pada jalan tidak bisa anda lakukan secara sembarangan. Setiap jenis kerusakan membutuhkan metode yang berbeda agar hasilnya bertahan lama, sesuai standar teknis, dan aman bagi pengguna jalan. Bina Marga mengarahkan bahwa penanganan harus mempertimbangkan tingkat keparahan, penyebab, dan luas kerusakan. Berikut metode perbaikan yang paling umum dan efektif penerapanya berdasarkan jenis kerusakan:

1. Perbaikan Retak (Cracking Repair)

Retak harus segera tertangani sebelum berkembang menjadi jenis kerusakan struktural yang lebih berat.

Metode perbaikan:

  • Crack Sealing / Penutupan Retak
    Mengisi retakan dengan bahan sealant khusus agar air tidak masuk ke lapisan bawah. Cocok untuk retak kecil dan sedang.
  • Crack Filling
    Mengisi retakan dengan campuran aspal cair atau hotmix untuk retak lebih lebar.
  • Overlay Tipis
    Jika retakan sudah menyebar luas, lapisan permukaan di-overlay ulang menggunakan AC-WC.

2. Perbaikan Lubang (Pothole Repair)

Lubang termasuk kerusakan serius dan berbahaya serta harus proses perbaikan secara cepat.

Metode perbaikan:

  • Cut and Patch (Potong dan Tambal)
    Area berlubang proses pemotongan berbentuk kotak, proses pembersihan, proses siram tack coat, lalu ditambal hotmix baru.
  • Cold Patching
    Solusi cepat menggunakan campuran aspal dingin, cocok untuk kondisi darurat atau musim hujan.

3. Perbaikan Amblas / Penurunan (Settlement Repair)

Perbaikan amblas harus menyentuh hingga lapisan bawah untuk menghindari kerusakan berulang.

Metode perbaikan:

  • Menggali area amblas hingga mencapai lapisan yang stabil,
  • Mengganti material base/subbase,
  • Melakukan pemadatan ulang sesuai standar,
  • Menghampar ulang lapisan hotmix.

4. Perbaikan Alur (Rutting Repair)

Rutting mengganggu kenyamanan dan dapat meningkatkan risiko aquaplaning.

Metode perbaikan:

  • Milling dan Overlay
    Permukaan yang beralur dikeruk (milling), lalu di-overlay dengan AC-WC atau AC-BC.
  • Reconstruction
    Jika alur sampai pada lapisan struktur, perlu rekonstruksi lapisan bawah.

5. Perbaikan Permukaan Bergelombang (Corrugation Repair)

Gelombang dapat mengganggu stabilitas kendaraan dan mempercepat kerusakan lainnya.

Metode perbaikan:

  • Milling untuk meratakan permukaan,
  • Penghamparan ulang hotmix dengan pemadatan optimal,
  • Menggunakan campuran dengan stabilitas lebih tinggi.

6. Perbaikan Pengelupasan (Ravelling Repair)

Jika terbengkalai, ravelling bisa berkembang menjadi potholes.

Metode perbaikan:

  • Fog Seal untuk pengelupasan ringan,
  • Slurry Seal atau micro surfacing untuk pengelupasan sedang,
  • Overlay hotmix untuk kerusakan berat.

7. Penanganan Bleeding

Permukaan licin akibat kelebihan aspal harus segera tertangani demi keamanan.

Metode perbaikan:

  • Menabur pasir halus untuk meningkatkan traksi sementara,
  • Milling area bleeding,
  • Menghampar ulang dengan campuran hotmix yang lebih stabil.

8. Perbaikan Pelepasan Butir (Stripping Repair)

Kerusakan ini menandakan kehilangan daya lekat antara aspal dan agregat.

Metode perbaikan:

  • Mengganti campuran hotmix yang rusak,
  • Memperbaiki sistem drainase,
  • Meninjau kualitas campuran dan kadar aspal.

9. Perbaikan Kerusakan Pinggir Jalan (Edge Break Repair)

Biasanya terjadi pada jalan sempit atau bahu jalan yang lemah.

Metode perbaikan:

  • Memperkuat bahu jalan,
  • Menambah material fondasi,
  • Memperlebar pengaspalan jika perlu,
  • Menambal bagian pinggir dengan hotmix dan pemadatan yang lebih kuat.

10. Perbaikan Keriting / Shoving

Berbahaya karena menciptakan permukaan tidak rata pada area tekanan tinggi.

Metode perbaikan:

  • Mengangkat area yang bergeser,
  • Mengganti dengan hotmix baru yang lebih stabil,
  • Memperbaiki pola pemadatan agar tidak terjadi mendorong aspal ke samping.

Penanganan yang tepat sesuai jenis kerusakan memastikan perbaikan lebih awet, biaya lebih efisien, dan umur layanan jalan jauh lebih panjang. Kombinasi inspeksi rutin serta metode perbaikan sesuai standar Bina Marga adalah kunci untuk menjaga kualitas jalan dalam jangka panjang.

Kesimpulan

Kerusakan jalan bukan hanya persoalan estetika atau kenyamanan, tetapi berdampak langsung pada keselamatan, biaya operasional kendaraan, dan produktivitas masyarakat. Dengan memahami jenis-jenis kerusakan jalan sesuai klasifikasi Bina Marga, mulai dari retak, alur, amblas, hingga pengelupasan, kita dapat menilai kondisi jalan secara lebih akurat dan mengambil tindakan yang tepat sebelum kerusakan semakin meluas.

Setiap jenis kerusakan membutuhkan metode perbaikan yang berbeda, mulai dari crack sealing, patching, slurry seal, milling, hingga rekonstruksi total pada kasus yang paling parah. Kombinasi analisis penyebab, penanganan yang sesuai standar, serta pemeliharaan rutin menjadi faktor penting agar jalan tetap andal untuk menunjang mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi Anda yang membutuhkan layanan perbaikan, overlay, atau pengaspalan jalan yang mengikuti standar Bina Marga, bisa anda percayakan bersama tim jasa pengaspalan Depok melalui nomor whatsapp 0895426140706. Dengan penanganan profesional, umur jalan dapat diperpanjang, kenyamanan meningkat, dan potensi kerusakan berulang bisa ditekan sejak awal. Jika Anda memiliki proyek jalan, pastikan setiap tahapnya ditangani dengan tepat dan terukur demi hasil yang kuat, aman, dan tahan lama.

FAQ (Frequently Asked Questions) Jenis jenis Kerusakan Jalan

1. Apa penyebab paling umum kerusakan jalan di Indonesia?

Kerusakan jalan paling banyak disebabkan oleh beban kendaraan berlebih (overload), drainase buruk, kualitas material yang tidak sesuai standar, serta cuaca ekstrem. Faktor-faktor ini mempercepat retakan, amblas, dan munculnya lubang.

2. Apa standar yang kontraktor pakai untuk mengklasifikasikan kerusakan jalan?

Standar yang umum sering kontraktor pakai adalah Standar Bina Marga, yang mengelompokkan kerusakan berdasarkan bentuk, tingkat keparahan, dan dampaknya terhadap struktur pengaspalan.

3. Bagaimana cara menentukan metode perbaikan yang tepat?

Metode perbaikan ditentukan dari jenis kerusakan, kedalaman kerusakan, penyebab utamanya, serta kondisi lapis pondasi. Misalnya, retak ringan cukup dengan crack sealing, sementara retak kulit buaya memerlukan overlay atau rekonstruksi.

4. Kapan diperlukan overlay dibanding tambal sulam?

Overlay diperlukan jika kerusakan sudah merata, banyak retak, atau permukaan mulai aus secara keseluruhan. Tambal sulam hanya efektif untuk kerusakan lokal seperti lubang atau stripping.

5. Apa saja tanda bahwa jalan membutuhkan rekonstruksi total?

Tanda-tandanya meliputi retak kulit buaya parah, rutting dalam, amblas besar, atau kerusakan sampai menembus lapisan base. Pada kondisi ini, perbaikan parsial tidak lagi efektif.

Wahyu RYD

Tehnik Sipil

Nama saya Wahyu RYD, seorang Teknik Sipil dengan pengalaman di bidang konstruksi dan pengaspalan jalan, terlibat langsung dalam perencanaan struktur perkerasan, analisis ketebalan aspal, serta pengawasan mutu pekerjaan di lapangan. Memahami standar teknis pengaspalan mulai dari kondisi tanah dasar, base course, hingga lapisan hotmix sesuai spesifikasi teknis proyek.

Aktif menulis artikel edukatif seputar pengaspalan jalan, standar teknis aspal, perhitungan volume, dan kualitas konstruksi, dengan pendekatan praktis agar mudah dipahami oleh pemilik proyek, kontraktor, maupun masyarakat umum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *